Selayang Pandang
Untuk mewujudkan kesadaran ini maka dibentuklah Perkumpulan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan (PMIK) pada tahun 1946 dengan susunan Pengurus Sebagai berikut :
- Ketua : Mr. Sutan Takdir Alisjahbana
- Wakil Ketua : Prof. Sarwono Prawirohardjo
- Penunlis : Mr. Prajitno Soewondo Hazil, Kwari Satjadibarata
- Bendahara : DR. Djoehana R.M. Soebagio
- Pembantu : Mr. T. Ismail Thayeb, Ny. Noegroho DR, Bahder Djohan,Drs. Adam Bachtiar
Bersamaan dengan itu diadakan 2 (dua) panitia yang diharapkan lebih khusus bekerja secara terpusat pada bidangnya dimana yang pertama untuk menyelidiki bagaimana, dapat menggiatkan kehidupan ilmu dalam masyarakat Indonesia dengan anggota-anggota sebagai berikut : DR. Leimena, Ir. Abdul Karim, Prof. Dr. Soetono Tjokronegoro, Mr. Ali Budihardjo, Poerwadarminta, Mr. Soetikno, Ir. TH. A. Resink, dan, DR. Soemitro Djojohadikusomo.
Panitia yang kedua bertugas.memotivasi usaha ke arah meningkatkan dan menggairahkan kegiatan kehidupan kebudayaan yang anggota-anggotanya sebagai berikut : Noegroho, Soedjatmoko, H.B. Jasin, Mochtar Apin, L. Damais, A. Djoehana, Nona Budihardjo, dan, Nona Roekmini Singgih
Usaha yang mula-mula dilakukan ialah mengadakan kira-kira 20 kursus antara lain Ekonomi, Hukum, Sosiologi, Politik, Filsafat dan lain-lain yang dipimpin oleh Drs. Adam Bahtiar sebagai penanggung jawab. Kursus-kursus ini secara umum dimaksudkan untuk memberikan basis pemahaman terhadap peranan Ilmu Pengetahuan bagi setiap warga Negara sebagai tanggung jawabnya dalam mengisi kemerdekaan.
Pada tahun yang sama, yakni akhir tahun 1946 diadakan juga SMA YMIK 1 (SMA sore) untuk memberi kesempatan kepada mereka yang bekerja di waktu pagi untuk melanjutkan pengetahuan dan mendapat kemajuan. Dalam perkembangannya, kenyataan memperlihatkan bahwa kursus-kursus yang didirikan dalam waktu yang rekatif singkat tidak lagi dapat menampung jumlah peminat yang makin bertambah. Oleh karena itu pada tanggal 1 Oktober 1946, atas desakan sekitar 400 lulusan SMA Republik Indonesia, PMIK kemudian mengumumkan dibukanya Akademi Nasional yang membawahi 5 (lima) Fakultas yakni : Fakultas Sosial, Ekonomi dan Politik, Fakultas Biologi, Fakultas Matematika clan Fisika, Fakultas Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Inggris,
Nama AKADEMI, dan bukan UNIVERSITAS, dipilih untuk menghindarkan diri dari peraturan kolonial, yang ketika itu masih berlaku untuk Jakarta.
Langkah maju PMIK tersebut mendapat sambutan positif secara luas dari segenap lapisan masyarakat. Kuliah pertama yang dilakukan secara sederhana dan khidmat pada tanggal 15 Oktober 1949 adalah suatu momentum historis yang mengawali perjuangan dalam perjalanan sejarah Universitas Nasional. Karena itu pulalah, tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai TANGGAL LAHIR UNIVERSITAS NASIONAL.
Masih dalam tahun 1949 yakni pada tanggal 22 Desember, Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang berkedudukan di Yogyakarta memberikan pengakuan dan persamaan penuh kepada Akademi Nasional dengan Surat Nomor :548/S. Lulusan SMA di Jakarta yang tidak mau memasuki Universiteit van Indonesia, Pemerintah Kolonial Belanda, ditampung oleh Universitas Nasional. Berdasarkan hal diatas, pada tahun 1959, ketika Universitas Nasional merayakan lustrumnya yang ke-II, Universitas Nasional mendapat gelar/julukan : UNIVERSITAS PERJUANGAN dari Presiden Pertama Republik Indonesia.
Untuk dapat memperoleh jaminan keamanan yang lebih pasti bagi kepentingan memperluas cakrawala kegiatannya yang terus berkembang, maka disepakati merubah status PERKUMPULAN ILMU DAN KEBUDAYAAN menajadi YAYASAN MEMAJUKAN ILMU DAN KEBUDAYAAN (YMIK) melalui Akte Notaris Mr. Soewandi No. 3 tanggal 1 September 1954. Dalam hal ini yang menghadap notaris Mr. Soewandi ketika itu adalah : Tuan Raden Teguh Suhardi Sastrosuwigno, Tuan Meester Sutan Takdir Ali sj ahbana, dan Tuan Meester Raden Soedjono Hardjosoediro,
Dari tahun ke tahun, Universitas Nasional terus berusaha mengembangkan dirinya, dengan pembukaan Fakultas-fakultas baru, yang diawali oleh Fakultas Ekonomi pada tahun 1964, sebagai usaha untuk sedapat mungkin menampung lulusan SMA yang terus meningkat. Menyusul Akademi Bahasa Asing (ABA) Nasional jurusan Bahasa Inggris (1970),
Akademi Manajemen dan Akuntansi
(sekarang Akademi Akuntansi Nasional) tahun 1973, dan pada tahun 1974 dibuka
sekaligus Sekolah Tinggi Penerjemah Nasional, Fakultas Teknik serta Akademi
Tourism dan perhotelan Nasional (sekarang menjadi Akademi Pariwisata Nasional).
Terakhir pada tahun 1985 dibuka lagi Fakultas Pertanian dan Fakultas Hukum.
Suatu usaha lain yang juga
menunjukkan pengembangan Universitas Nasional adalah peningkatan frekuensi
penerbit majalah ILMU dan BUDAYA, yang pertama kali pada Oktober 1978 terbit 3
(tiga) bulan sekali secara teratur.
Pengembangan lain juga dilakukan
lewat penataan kembali kedudukan fakultas-fakultas yang ada di lingkungan
Universitas Nasional dengan tetap berpegang pada aturan-aturan pemerintah yang
digariskan, balk dengan cara melakukan penggabungan ataupun pemekaran fakultas
maupun kurikulum yang digunakan.
Penataan dimaksud menyebabkan
Universitas Nasional mulai 1984-1985 membawahi delapan fakultas dengan berbagai
jurusan. Fakultas Sastra Inggris dan Fakultas Sastra Indonesia digabung menjadi
satu dengan nama Fakultas Sastra Universitas Nasional.
Tidak sampai disitu saja YAYASAN MEMAJUKAN ILMU dan KEBUDAYAAN (YMIK) juga membuka SMP YMIK diatas tanah milik Yayasan seluas 3060 meter persegi dengan sumber dana bantuan pemerintah daerah melalui proyek Pembangunan Lima Tahun Tahap Dua atau PELITA II yang beralamat di Komplek DPR RI Pribadi Kelurahan Joglo Kecamatan Kembangan yang pada saat itu masih kecamatan kebon jeruk jakarta barat , gedung SMP YMIK selesai dan diterima pada 01 Februari 1972 dan ditandatangani oleh gubernur DKI Jakarta Letnan Jenderal (Pur TNI Angkatan Laut) Ali Sadikin. Pada 19 September 1974 dan mulai digunakan kegiatan pembelajaran oleh lingkungan masyarakat sampai diterimanya SK Pendirian tanggal 1 Agustus 1976. Awal mula SMP YMIK memiliki 6 ruang belajar, 1 ruang guru, 1 ruang kepala sekolah dan 1 ruang tata usaha dengan jumlah 13 siswa, dipimpin oleh kepala sekolah Drs. H. Nasrul Evan dengan guru terdiri: Kimin, Badaruddin, MK Manurung, dan M. Soleh. Kemudian pada 1979 seiring bertambah jumlah siswa (30 Siswa) tenaga gurupun bertambah yakni Fatimah Sihombing, Martin Girsang, Muhidin, Ali Maspar, Amran. dan pada tahun 1985 merupakan lulusan pertama SMP YMIK. Yayasan pada masa itu dipimpin oleh Dr. H. Muh Sukmadi.
SMA YMIK 2 pada 17 Oktober 2013 yang ber alamat Manggarai Utara VII Kelurahan Manggarai Kecamatan Tebet Jakarta Selatan dengan jurusan IPA
Universitas Siber Asia Pada tanggal 7 Juli 2020, pimpinan YMIK dan pimpinan Universitas Siber Asia (UNSIA) diterima oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Prof. KH. Ma'aruf Amin di kediamannya. Wakil Presiden menyatakan dukungannya terhadap pendirian universitas berbasis cyber untuk menghilangkan disparitas pendidikan tinggi di masyarakat dan pada tanggal 24 Agustus 2020 Universitas Siber Asia mendapatkan izin resmi dari pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan jarak jauh pada tingkat sarjana melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 757/M/2020 tentang Izin Pendirian Universitas Siber Asia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar